Jumat, 21 Desember 2012

yearbook!!

Diposting oleh Nurul Fadhilah di 04.19 0 komentar
oke, mau sharing aja niiih :p
finally, kita semua udah selese foto buat yearbook nanti{}
thankyou transformers atas kerjasamanya^^
walaupun ada dikit konflik gara2 gak ontime atau ngaret..
ya kita semua sama2 cape, jadi sebenernya harus ngertiin satu sama lain.
okeee, tp kalian semua maksimal kok:))

gak semua foto per-kelompok foto mafia ada disini. soalnya ga semuanya ada jg dikamera^^

































Kamis, 06 Desember 2012

cerpen ~

Diposting oleh Nurul Fadhilah di 05.42 1 komentar

cerpen ini tugas bahasa indonesia, ngarang sendiri dan mungkin ceritanya agak2 aneh-_- tp coba share aja di blog :))


Nama: Nurul Fadhilah
Kelas: XII IPA 7
Absen: 24

Di hari itu, ketika sahabatku pulang

“KRIINNGGG” jam beker berbentuk teddy bear itu berbunyi. Waktu sudah menunjukan pukul 06.00 pagi, matahari sudah meyorotkan sinarnya dengan diiringi suara burung-burung yang berkicau dari halaman depan rumah.
“AAAAAH AKU TELAT!!!” teriak Dita ketika dia melihat jam kesayangannya itu. Ia segera beranjak ke kamar mandi. Dia tidak boleh telat, karena seseorang yang menunggunya pasti akan mengomel kalau dia terlambat. Ya, orang itu adalah Hanif. Dia adalah sahabat dekat Dita, dari kecil mereka selalu bersama. Itulah sebabnya setiap pagi Hanif selalu menunggu Dita untuk pergi ke sekolah bersama.
“Lama banget sih, kita hampir telat tahu” gerutu Hanif.
“Yah, maaf deh Nif. Aku kan Cuma telat 5 menit doang masa kamu gitu saja ngomel”, ujar Dita membela diri.
“Yaudah, ayo cepet berangkat” Hanif berkata sambil mengayunkan sepedanya.
Mereka berdua pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda, menurut mereka itu jauh lebih baik dan sehat daripada naik kendaraan yang menyebabkan polusi udara.
Sesampainya disekolah, Hanif dan Dita berjalan berbeda arah. Walaupun mereka selalu satu sekolah, mereka tidak pernah satu kelas. Dita XII ipa5 dan Hanif XII ipa3. Namun, setiap istirahat mereka selalu bertemu dikantin dan makan bersama. Itulah kadang teman-teman mereka menganggap mereka berpacaran. Kenyataannya mereka adalah dua sahabat yang sangat baik.
“Nif, pulang sekolah anterin aku yuk”
“Kemana?” tanya Hanif sambil mengunyah makanan yang dibelinya
“Hmmm, aku mau cari buku tentang Desaigner” Ujar Dita
“Oke, tapi jangan lama-lama soalnya aku sore mau ada tanding futsal”
“Oke deh” cengir Dita
Bel pulang sekolah pun berbunyi, Dita sudah menunggu hanif di parkiran sambil memegang sepeda pinknya.
“ih lama banget sih Hanif, dia kok nggak keluar-keluar kelas” ucap Dita dengan nada kesal
15 menit kemudian, Hanif pun baru muncul.
“Darimana aja sih? Lama banget, nanti keburu sore tahu” omel Dita
“Maaf, tadi ada kumpul futsal bentar, yaudah yuk ayo pergi sekarang” jawab Hanif
Mereka berdua pun mengayunkan sepeda menuju toko buku Gramedia, sesampainya disana Dita langsung menuju ke bagian buku tentang ‘Designer’ dia memang suka menggambar, tetapi menggambar fashion-fashion. Beda dengan Hanif, dia tertarik dengan buku-buku panduan arsitek. Dia lebih suka menggambar bangunan-bangunan dibandingkan harus menggambar fashion...
Dita dan Hanif mempunyai kesamaan hobi menggambar, cita-cita Dita adalah menjadi designer fashion terkenal. Sedangkan Hanif, ia bercita-cita menjadi seorang Arsitek. Mereka berdua sudah berjanji untuk kuliah di Universitass yang sama dan di Kota yang sama.
“Udah belum?” tanya Hanif kepada Dita yang sedang asyik membaca buku tentang Designer
“Sebentar lagi, lagian buru-buru banget baru juga 10 menit kita disini. Memangnya kamu nggak mau lihat lebih banyak lagi buku tentang arsitek?” ujar Dita
“Udah tadi, cuma aku lagi malas. Ayo cepat, aku pingin pulang. Kepalaku tiba-tiba pusing” jawab Hanif dengan langkah meninggalkan Dita
“Kamu sakit?” tanya Dita
“enggak” jawab Hanif cuek
Keesokan harinya, Dita mendapat pesan singkat dari Hanif bahwa dia tidak masuk sekolah karena sakit.
“Yah berangkat sendiri deh hari ini” gumam Dita
“Mana hanif dit? Kok tumben dia tidak kesini?” tanya Mama dita heran
“Dia sakit Ma, makanya hari ini aku berangkat sendiri”
“Sakit apa? Kamu ga kerumah dia dulu?”
“Dia bilang sih pusing Ma, nanti aku kerumahnya kalau sudah pulang sekolah saja” ujar Dita
Setelah berpamitan dengan Mamanya, Dita pun berangkat ke Sekolah tanpa ditemani Hanif.
“Hai dit, lesu banget hari ini? Kenapa kamu? Oh iya tumben berangkat sendirian” tanya Rani teman sebangku Dita
“Nggak apa-apa aku lagi malas saja, iya Hanif sakit jadi aku berangkat sendiri” jawab Dita
“Oh gitu, oh iya kamu udah mengisi formulir untuk pendaftaran ke Universitas?”
“Belum, aku nunggu Hanif. Soalnya, aku mau bareng lagi sama dia” jawab Dita
Sepulang sekolah, Dita langsung menuju ke rumah Hanif. Tidak sabar dia melihat keadaan sahabatnya itu. Sesampai dirumah Hanif...
“Masuk saja mbak, mas Hanif lagi di teras atas” ujar Mbok Nah, pembantu Hanif.
“Terimakasih ya Mbok”
Hanif sedang duduk sambil membaca buku, Dita pun menghampiri Hanif..
“Hei, sakit apa kamu? Tumben banget sakit” goda Dita
“Kamu nggak lihat muka aku pucat begini? Emang muka aku tidak kelihatan muka orang sakit?” jawab Hanif sebal
“Hehehe, maaf bercanda kok. Emang kamu sakit apa? Perasaan kemaren pas kita ke Gramedia kan baik-baik saja”  ucap Dita
“Ya mungkin kecapean gara-gara tanding futsal kemarin, terus sakit deh” jawab Hanif santai
“Oooh gitu, makanya jangan kecapean. Oh iya aku belum daftar ke Universitas nih nungguin kamu, kan katanya kita mau ngambil Universitas yang sama”
“Kamu yakin mau satu Universitas lagi sama aku? Nggak bosan?” canda Hanif
“Bosan sih, tapi ya gimana lagi... dari kecil udah terbiasa bareng sama kamu sih” ledek Dita
Mereka pun bercanda sambil membicarakan hal-hal yang terjadi di Sekolah tadi, lalu Dita pun mengeluarkan buku-buku catatan agar Hanif tidak ketinggalan pelajaran.
Keesokan harinya, Hanif masuk sekolah dan seperti biasa mereka pergi dan pulang bareng. Namun, besoknya Hanif tidak masuk sekolah lagi, Dita pun kembali pergi mengunjungi rumah Hanif untuk melihat keadaan sahabatnya itu. Seperti biasa, hanif selalu menjawab ‘kecapean’.
Setelah beberapa hari yang lalu Hanif sakit, Hanif pun jadi jarang masuk ke sekolah dan setiap Hanif tidak masuk, sepulang sekolah Dita selalu mengunjungi rumah Hanif untuk menanyakan keadaan sahabatnya. Lagi-lagi Hanif hanya menjawab “mungkin aku kecapean’’ atau “aku cuma pusing kok”.
Dita tidak menaruh perasaan curiga kenapa Hanif selalu menjawab pertanyaan yang sama, karena Dita percaya dengan omongan sahabatnya itu, sahabat yang dari kecil tak pernah pisah dengannya, sahabat yang ia sukai dari kecil walaupun ia tidak pernah berani untuk mengatakannya. Tetapi ia berjanji, ia akan mengatakan perasaannya ketika ia sudah berani untuk mengatakannya kepada Hanif.


Di suatu sore, Hanif dan Dita pergi berjalan-jalan ke toko buku. Ya, mereka senang pergi ke toko buku atau menonton film ketika akhir pekan.
“Eh Nif, ada film kesukaan kita keluar” ucap Dita
“Oh ya? Kapan keluarnya? Jawab Hanif antusias
“Bulan depan, nonton yuk!” ajak Dita semangat
“Ayo, bulan depan ya janji awas aja”
“Iya, pokoknya harus nonton!” ucap Dita ceria
***
Hanif tidak masuk sekolah lagi dan Dita merasa cemas, ada apa dengan sahabatnya ini, kenapa dia akhir-akhir ini jarang sekali masuk sekolah. Dita berpikiran tidak karuan, ia ingin menjenguknya seperti biasa tapi kali ini Hanif melarangnya dan beralasan ia lagi ingin sendiri dan istirahat.
Seminggu... Hanif tidak masuk sekolah juga, Dita selalu menanyakan keadaannya lewat pesan singkat. Namun, Hanif selalu menjawabnya dengan santai “aku nggak kenapa-kenapa, nanti juga aku masuk sekolah” Hanif selalu menjawab pertanyaan Dita dengan jawaban yang sama, kadang-kadang ia beralasan ada acara keluarga. Ketika Dita ingin menjenguknya, ia tidak memperbolehkan Dita untuk menjenguknya. Namun, seminggu telah berlalu terakhir ia bertemu Hanif ketika berjalan bersama di akhir pekan. Dita nekat, dia akan pergi mengunjungi rumah Hanif hari ini.
Sesampai dirumah Hanif, rumah itu terlihat sepi dan kosong. Dita menekan tombol “bel” berulang-ulang kali namun tidak ada orang yang keluar dari rumah itu. Akhirnya Dita memutuskan untuk pulang.
Keesokan harinya, Dita kembali kerumah Hanif. Hasil tetap sama, tidak ada orang satu pun dirumah itu, 2 minggu berlalu Dita kesal, khawatir, sedih. Kenapa sahabatnya itu tidak ada kabar? Kenapa pesan singkatnya tidak pernah dibalas? Kenapa ditelpon tidak bisa? Kemana dia? Gimana keadaanya?  Pertanyaan-pertanyaan itu berkelebat di kepala Dita. Memang, sudah 2 minggu ini Hanif tidak bisa dihubungin, orang tuanya pun tidak bisa dihubungi.
Pada Hari itu...
“Drettt drettt” handphone Dita bergetar, dilihatnya handphone genggamnya dan terdapat pesan singkat dari Hanif.
“Dit, apa kabar? Baik-baik aja kan? Maaf ya aku menghilang dan tidak bisa dihubungi. Hehe aku lagi berlibur nih, asik banget loh disini. Oh iya, 2-3 hari lagi aku pulang, filmnya masih ada kan? Ayo, kita nonton film itu ya Dit, aku kan udah janji mau nonton bareng kamu. Tunggu aku ya Dit” begitulah isi pesan singkat Hanif terhadap Dita, ketika Dita membalasnya, Hanif tidak membalas lagi.
Dita sangat menunggu-nunggu kepulangan Hanif. Ya, Dita sangat merindukan sahabatnya itu.

3 hari kemudian…
“Dit bangun....” Mama membangunkannya yang masih tertidur pulas.
“Hmmmm, masih pagi Ma. Aku masih ngantuk” ucap Dita dengan menutupkan matanya dengan bantal
“Dit, kita harus pergi sekarang” ucap Mama Dita dengan nada sendu
“Kemana ma?” segera Dita bangun dan melihat wajah Mamanya yang terlihat sedih
“Kamu cepat mandi, lalu berpakaian yang rapi” jawab Mama Dita, lalu meninggalkan Dita yang masih terdiam dikasur
“Tapi mau kemana, Ma?”
Mama Dita tidak menjawab pertanyaan terakhir Dita, Dita pun langsung bergegas mandi dan bersiap-siap. Dia tidak tahu, ke mana mamanya akan mengajaknya pergi pagi hari ini. Namun Dita mengikuti saja ajakan dari mamanya itu.
“Ma aku udah siap”
“Ayo kita pergi, entar kita terlambat” ucap Mama Dita
Di perjalanan, Dita terus bertanya akan pergi kemana. Namun, Mamanya sama sekali tidak menjawab pertanyaan Dita, yang terdapat hanya keheningan disepanjang jalan.
“Kita sudah sampai, nak”
“Ma? Ini kan rumah Hanif.. kenapa ramai sekali?” tanya Dita heran
“Lebih baik kita turun dan masuk, Nak” ucap Mama Dita
Kenapa ada bendera kuning? Siapa yang meninggal? Perasaan Dita tiba-tiba tidak enak. Langkahnya bergerak kaku..
Ketika masuk rumah Hanif, Dita terpaku tidak bergerak. Dia tidak percaya, dia ingin menangis, ingin marah, ingin menjerit ketika melihat tubuh Hanif diantara orang-orang banyak.
“Ma.... ini aku mimpi kan?” air mata Dita mulai berjatuhan, tiba-tiba kakinya terasa sangat lemas
“Tidak Nak, Hanif meninggal semalam. Dia mempunyai penyakit Kanker Hati stadium akhir, maafin Mama. Mama juga baru dikasih tahu tadi Pagi, Hanif baru sampai tadi pagi dari Singapure”
Dita menangis. Dia baru mengerti omongan-omongan Hanif ketika dia bilang sedang berlibur, ternyata dia sedang melakukan pengobatan, Hanif berjanji akan pulang 2-3 hari lagi dan menonton film kesukaan mereka dengan Dita. Maksudnya, pulang dengan tubuh tanpa nyawa dan meninggalkan dirinya selama-lamanya? Pikiran Dita sangat kacau. Dia tidak tahu harus berbuat apa, di dekatinya tubuh sahabatnya itu. Hanif yang pucat, dengan mata terpejam.
“Nif, kenapa  secepat ini kamu ninggalin aku... kamu janji kita akan kuliah bareng kan Nif? Kamu masih inget kan? Kamu mau jadi arsitek dan aku desaigner , kamu masih inget kan cita-cita aku sama kamu? Kalau kamu nggak ada, aku berangkat sekolah sama siapa Nif? Kamu tega ngelihat aku berangkat sendiri? Kamu tega ngelihat aku sedih? Katanya kita mau nonton? Kok kamu ninggalin aku duluan?” tangis Dita semakin menjadi-jadi. Selama ini Hanif tidak pernah cerita sedikit pun tentang penyakitnya kepada Dita.
Pemakaman Hanif pun selesai, satu persatu meninggalkan pemakaman itu. Namun Dita, masih duduk disamping makam Hanif “yang tenang ya Hanif, sahabatku. Doain cita-cita aku tercapai jadi designer terkenal, aku juga akan selalu doain kamu kok. Aku pulang dulu ya Nif, aku capek seharian ini disamping kamu’’
Dita pun berdiri dan beranjak pergi meninggalkan pemakaman sahabatnya, Hanif. Tentang perasaannya kepada Hanif, biarkan dia saja yang tahu. Biarkan saja dia yang meyimpan selamanya.

Jumat, 21 Desember 2012

yearbook!!

Diposting oleh Nurul Fadhilah di 04.19 0 komentar
oke, mau sharing aja niiih :p
finally, kita semua udah selese foto buat yearbook nanti{}
thankyou transformers atas kerjasamanya^^
walaupun ada dikit konflik gara2 gak ontime atau ngaret..
ya kita semua sama2 cape, jadi sebenernya harus ngertiin satu sama lain.
okeee, tp kalian semua maksimal kok:))

gak semua foto per-kelompok foto mafia ada disini. soalnya ga semuanya ada jg dikamera^^

































Kamis, 06 Desember 2012

cerpen ~

Diposting oleh Nurul Fadhilah di 05.42 1 komentar

cerpen ini tugas bahasa indonesia, ngarang sendiri dan mungkin ceritanya agak2 aneh-_- tp coba share aja di blog :))


Nama: Nurul Fadhilah
Kelas: XII IPA 7
Absen: 24

Di hari itu, ketika sahabatku pulang

“KRIINNGGG” jam beker berbentuk teddy bear itu berbunyi. Waktu sudah menunjukan pukul 06.00 pagi, matahari sudah meyorotkan sinarnya dengan diiringi suara burung-burung yang berkicau dari halaman depan rumah.
“AAAAAH AKU TELAT!!!” teriak Dita ketika dia melihat jam kesayangannya itu. Ia segera beranjak ke kamar mandi. Dia tidak boleh telat, karena seseorang yang menunggunya pasti akan mengomel kalau dia terlambat. Ya, orang itu adalah Hanif. Dia adalah sahabat dekat Dita, dari kecil mereka selalu bersama. Itulah sebabnya setiap pagi Hanif selalu menunggu Dita untuk pergi ke sekolah bersama.
“Lama banget sih, kita hampir telat tahu” gerutu Hanif.
“Yah, maaf deh Nif. Aku kan Cuma telat 5 menit doang masa kamu gitu saja ngomel”, ujar Dita membela diri.
“Yaudah, ayo cepet berangkat” Hanif berkata sambil mengayunkan sepedanya.
Mereka berdua pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda, menurut mereka itu jauh lebih baik dan sehat daripada naik kendaraan yang menyebabkan polusi udara.
Sesampainya disekolah, Hanif dan Dita berjalan berbeda arah. Walaupun mereka selalu satu sekolah, mereka tidak pernah satu kelas. Dita XII ipa5 dan Hanif XII ipa3. Namun, setiap istirahat mereka selalu bertemu dikantin dan makan bersama. Itulah kadang teman-teman mereka menganggap mereka berpacaran. Kenyataannya mereka adalah dua sahabat yang sangat baik.
“Nif, pulang sekolah anterin aku yuk”
“Kemana?” tanya Hanif sambil mengunyah makanan yang dibelinya
“Hmmm, aku mau cari buku tentang Desaigner” Ujar Dita
“Oke, tapi jangan lama-lama soalnya aku sore mau ada tanding futsal”
“Oke deh” cengir Dita
Bel pulang sekolah pun berbunyi, Dita sudah menunggu hanif di parkiran sambil memegang sepeda pinknya.
“ih lama banget sih Hanif, dia kok nggak keluar-keluar kelas” ucap Dita dengan nada kesal
15 menit kemudian, Hanif pun baru muncul.
“Darimana aja sih? Lama banget, nanti keburu sore tahu” omel Dita
“Maaf, tadi ada kumpul futsal bentar, yaudah yuk ayo pergi sekarang” jawab Hanif
Mereka berdua pun mengayunkan sepeda menuju toko buku Gramedia, sesampainya disana Dita langsung menuju ke bagian buku tentang ‘Designer’ dia memang suka menggambar, tetapi menggambar fashion-fashion. Beda dengan Hanif, dia tertarik dengan buku-buku panduan arsitek. Dia lebih suka menggambar bangunan-bangunan dibandingkan harus menggambar fashion...
Dita dan Hanif mempunyai kesamaan hobi menggambar, cita-cita Dita adalah menjadi designer fashion terkenal. Sedangkan Hanif, ia bercita-cita menjadi seorang Arsitek. Mereka berdua sudah berjanji untuk kuliah di Universitass yang sama dan di Kota yang sama.
“Udah belum?” tanya Hanif kepada Dita yang sedang asyik membaca buku tentang Designer
“Sebentar lagi, lagian buru-buru banget baru juga 10 menit kita disini. Memangnya kamu nggak mau lihat lebih banyak lagi buku tentang arsitek?” ujar Dita
“Udah tadi, cuma aku lagi malas. Ayo cepat, aku pingin pulang. Kepalaku tiba-tiba pusing” jawab Hanif dengan langkah meninggalkan Dita
“Kamu sakit?” tanya Dita
“enggak” jawab Hanif cuek
Keesokan harinya, Dita mendapat pesan singkat dari Hanif bahwa dia tidak masuk sekolah karena sakit.
“Yah berangkat sendiri deh hari ini” gumam Dita
“Mana hanif dit? Kok tumben dia tidak kesini?” tanya Mama dita heran
“Dia sakit Ma, makanya hari ini aku berangkat sendiri”
“Sakit apa? Kamu ga kerumah dia dulu?”
“Dia bilang sih pusing Ma, nanti aku kerumahnya kalau sudah pulang sekolah saja” ujar Dita
Setelah berpamitan dengan Mamanya, Dita pun berangkat ke Sekolah tanpa ditemani Hanif.
“Hai dit, lesu banget hari ini? Kenapa kamu? Oh iya tumben berangkat sendirian” tanya Rani teman sebangku Dita
“Nggak apa-apa aku lagi malas saja, iya Hanif sakit jadi aku berangkat sendiri” jawab Dita
“Oh gitu, oh iya kamu udah mengisi formulir untuk pendaftaran ke Universitas?”
“Belum, aku nunggu Hanif. Soalnya, aku mau bareng lagi sama dia” jawab Dita
Sepulang sekolah, Dita langsung menuju ke rumah Hanif. Tidak sabar dia melihat keadaan sahabatnya itu. Sesampai dirumah Hanif...
“Masuk saja mbak, mas Hanif lagi di teras atas” ujar Mbok Nah, pembantu Hanif.
“Terimakasih ya Mbok”
Hanif sedang duduk sambil membaca buku, Dita pun menghampiri Hanif..
“Hei, sakit apa kamu? Tumben banget sakit” goda Dita
“Kamu nggak lihat muka aku pucat begini? Emang muka aku tidak kelihatan muka orang sakit?” jawab Hanif sebal
“Hehehe, maaf bercanda kok. Emang kamu sakit apa? Perasaan kemaren pas kita ke Gramedia kan baik-baik saja”  ucap Dita
“Ya mungkin kecapean gara-gara tanding futsal kemarin, terus sakit deh” jawab Hanif santai
“Oooh gitu, makanya jangan kecapean. Oh iya aku belum daftar ke Universitas nih nungguin kamu, kan katanya kita mau ngambil Universitas yang sama”
“Kamu yakin mau satu Universitas lagi sama aku? Nggak bosan?” canda Hanif
“Bosan sih, tapi ya gimana lagi... dari kecil udah terbiasa bareng sama kamu sih” ledek Dita
Mereka pun bercanda sambil membicarakan hal-hal yang terjadi di Sekolah tadi, lalu Dita pun mengeluarkan buku-buku catatan agar Hanif tidak ketinggalan pelajaran.
Keesokan harinya, Hanif masuk sekolah dan seperti biasa mereka pergi dan pulang bareng. Namun, besoknya Hanif tidak masuk sekolah lagi, Dita pun kembali pergi mengunjungi rumah Hanif untuk melihat keadaan sahabatnya itu. Seperti biasa, hanif selalu menjawab ‘kecapean’.
Setelah beberapa hari yang lalu Hanif sakit, Hanif pun jadi jarang masuk ke sekolah dan setiap Hanif tidak masuk, sepulang sekolah Dita selalu mengunjungi rumah Hanif untuk menanyakan keadaan sahabatnya. Lagi-lagi Hanif hanya menjawab “mungkin aku kecapean’’ atau “aku cuma pusing kok”.
Dita tidak menaruh perasaan curiga kenapa Hanif selalu menjawab pertanyaan yang sama, karena Dita percaya dengan omongan sahabatnya itu, sahabat yang dari kecil tak pernah pisah dengannya, sahabat yang ia sukai dari kecil walaupun ia tidak pernah berani untuk mengatakannya. Tetapi ia berjanji, ia akan mengatakan perasaannya ketika ia sudah berani untuk mengatakannya kepada Hanif.


Di suatu sore, Hanif dan Dita pergi berjalan-jalan ke toko buku. Ya, mereka senang pergi ke toko buku atau menonton film ketika akhir pekan.
“Eh Nif, ada film kesukaan kita keluar” ucap Dita
“Oh ya? Kapan keluarnya? Jawab Hanif antusias
“Bulan depan, nonton yuk!” ajak Dita semangat
“Ayo, bulan depan ya janji awas aja”
“Iya, pokoknya harus nonton!” ucap Dita ceria
***
Hanif tidak masuk sekolah lagi dan Dita merasa cemas, ada apa dengan sahabatnya ini, kenapa dia akhir-akhir ini jarang sekali masuk sekolah. Dita berpikiran tidak karuan, ia ingin menjenguknya seperti biasa tapi kali ini Hanif melarangnya dan beralasan ia lagi ingin sendiri dan istirahat.
Seminggu... Hanif tidak masuk sekolah juga, Dita selalu menanyakan keadaannya lewat pesan singkat. Namun, Hanif selalu menjawabnya dengan santai “aku nggak kenapa-kenapa, nanti juga aku masuk sekolah” Hanif selalu menjawab pertanyaan Dita dengan jawaban yang sama, kadang-kadang ia beralasan ada acara keluarga. Ketika Dita ingin menjenguknya, ia tidak memperbolehkan Dita untuk menjenguknya. Namun, seminggu telah berlalu terakhir ia bertemu Hanif ketika berjalan bersama di akhir pekan. Dita nekat, dia akan pergi mengunjungi rumah Hanif hari ini.
Sesampai dirumah Hanif, rumah itu terlihat sepi dan kosong. Dita menekan tombol “bel” berulang-ulang kali namun tidak ada orang yang keluar dari rumah itu. Akhirnya Dita memutuskan untuk pulang.
Keesokan harinya, Dita kembali kerumah Hanif. Hasil tetap sama, tidak ada orang satu pun dirumah itu, 2 minggu berlalu Dita kesal, khawatir, sedih. Kenapa sahabatnya itu tidak ada kabar? Kenapa pesan singkatnya tidak pernah dibalas? Kenapa ditelpon tidak bisa? Kemana dia? Gimana keadaanya?  Pertanyaan-pertanyaan itu berkelebat di kepala Dita. Memang, sudah 2 minggu ini Hanif tidak bisa dihubungin, orang tuanya pun tidak bisa dihubungi.
Pada Hari itu...
“Drettt drettt” handphone Dita bergetar, dilihatnya handphone genggamnya dan terdapat pesan singkat dari Hanif.
“Dit, apa kabar? Baik-baik aja kan? Maaf ya aku menghilang dan tidak bisa dihubungi. Hehe aku lagi berlibur nih, asik banget loh disini. Oh iya, 2-3 hari lagi aku pulang, filmnya masih ada kan? Ayo, kita nonton film itu ya Dit, aku kan udah janji mau nonton bareng kamu. Tunggu aku ya Dit” begitulah isi pesan singkat Hanif terhadap Dita, ketika Dita membalasnya, Hanif tidak membalas lagi.
Dita sangat menunggu-nunggu kepulangan Hanif. Ya, Dita sangat merindukan sahabatnya itu.

3 hari kemudian…
“Dit bangun....” Mama membangunkannya yang masih tertidur pulas.
“Hmmmm, masih pagi Ma. Aku masih ngantuk” ucap Dita dengan menutupkan matanya dengan bantal
“Dit, kita harus pergi sekarang” ucap Mama Dita dengan nada sendu
“Kemana ma?” segera Dita bangun dan melihat wajah Mamanya yang terlihat sedih
“Kamu cepat mandi, lalu berpakaian yang rapi” jawab Mama Dita, lalu meninggalkan Dita yang masih terdiam dikasur
“Tapi mau kemana, Ma?”
Mama Dita tidak menjawab pertanyaan terakhir Dita, Dita pun langsung bergegas mandi dan bersiap-siap. Dia tidak tahu, ke mana mamanya akan mengajaknya pergi pagi hari ini. Namun Dita mengikuti saja ajakan dari mamanya itu.
“Ma aku udah siap”
“Ayo kita pergi, entar kita terlambat” ucap Mama Dita
Di perjalanan, Dita terus bertanya akan pergi kemana. Namun, Mamanya sama sekali tidak menjawab pertanyaan Dita, yang terdapat hanya keheningan disepanjang jalan.
“Kita sudah sampai, nak”
“Ma? Ini kan rumah Hanif.. kenapa ramai sekali?” tanya Dita heran
“Lebih baik kita turun dan masuk, Nak” ucap Mama Dita
Kenapa ada bendera kuning? Siapa yang meninggal? Perasaan Dita tiba-tiba tidak enak. Langkahnya bergerak kaku..
Ketika masuk rumah Hanif, Dita terpaku tidak bergerak. Dia tidak percaya, dia ingin menangis, ingin marah, ingin menjerit ketika melihat tubuh Hanif diantara orang-orang banyak.
“Ma.... ini aku mimpi kan?” air mata Dita mulai berjatuhan, tiba-tiba kakinya terasa sangat lemas
“Tidak Nak, Hanif meninggal semalam. Dia mempunyai penyakit Kanker Hati stadium akhir, maafin Mama. Mama juga baru dikasih tahu tadi Pagi, Hanif baru sampai tadi pagi dari Singapure”
Dita menangis. Dia baru mengerti omongan-omongan Hanif ketika dia bilang sedang berlibur, ternyata dia sedang melakukan pengobatan, Hanif berjanji akan pulang 2-3 hari lagi dan menonton film kesukaan mereka dengan Dita. Maksudnya, pulang dengan tubuh tanpa nyawa dan meninggalkan dirinya selama-lamanya? Pikiran Dita sangat kacau. Dia tidak tahu harus berbuat apa, di dekatinya tubuh sahabatnya itu. Hanif yang pucat, dengan mata terpejam.
“Nif, kenapa  secepat ini kamu ninggalin aku... kamu janji kita akan kuliah bareng kan Nif? Kamu masih inget kan? Kamu mau jadi arsitek dan aku desaigner , kamu masih inget kan cita-cita aku sama kamu? Kalau kamu nggak ada, aku berangkat sekolah sama siapa Nif? Kamu tega ngelihat aku berangkat sendiri? Kamu tega ngelihat aku sedih? Katanya kita mau nonton? Kok kamu ninggalin aku duluan?” tangis Dita semakin menjadi-jadi. Selama ini Hanif tidak pernah cerita sedikit pun tentang penyakitnya kepada Dita.
Pemakaman Hanif pun selesai, satu persatu meninggalkan pemakaman itu. Namun Dita, masih duduk disamping makam Hanif “yang tenang ya Hanif, sahabatku. Doain cita-cita aku tercapai jadi designer terkenal, aku juga akan selalu doain kamu kok. Aku pulang dulu ya Nif, aku capek seharian ini disamping kamu’’
Dita pun berdiri dan beranjak pergi meninggalkan pemakaman sahabatnya, Hanif. Tentang perasaannya kepada Hanif, biarkan dia saja yang tahu. Biarkan saja dia yang meyimpan selamanya.

 

About My Story Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review