cerpen ini tugas bahasa indonesia, ngarang sendiri dan mungkin ceritanya agak2 aneh-_- tp coba share aja di blog :))
Nama: Nurul Fadhilah
Kelas: XII IPA 7
Absen: 24
Di hari itu, ketika sahabatku pulang
“KRIINNGGG” jam beker berbentuk
teddy bear itu berbunyi. Waktu sudah menunjukan pukul 06.00 pagi, matahari
sudah meyorotkan sinarnya dengan diiringi suara burung-burung yang berkicau
dari halaman depan rumah.
“AAAAAH AKU TELAT!!!” teriak Dita
ketika dia melihat jam kesayangannya itu. Ia segera beranjak ke kamar mandi.
Dia tidak boleh telat, karena seseorang yang menunggunya pasti akan mengomel
kalau dia terlambat. Ya, orang itu adalah Hanif. Dia adalah sahabat dekat Dita, dari kecil mereka
selalu bersama. Itulah sebabnya setiap pagi Hanif selalu menunggu Dita untuk
pergi ke sekolah bersama.
“Lama banget sih, kita hampir
telat tahu” gerutu Hanif.
“Yah, maaf deh Nif. Aku kan Cuma
telat 5 menit doang masa kamu gitu saja ngomel”, ujar Dita membela diri.
“Yaudah, ayo cepet berangkat”
Hanif berkata sambil mengayunkan sepedanya.
Mereka berdua pergi ke sekolah
dengan menggunakan sepeda, menurut mereka itu jauh lebih baik dan sehat
daripada naik kendaraan yang menyebabkan polusi udara.
Sesampainya disekolah, Hanif dan
Dita berjalan berbeda arah. Walaupun mereka selalu satu sekolah, mereka tidak
pernah satu kelas. Dita XII ipa5 dan Hanif XII ipa3. Namun, setiap istirahat
mereka selalu bertemu dikantin dan makan bersama. Itulah kadang teman-teman
mereka menganggap mereka berpacaran. Kenyataannya mereka adalah dua sahabat
yang sangat baik.
“Nif, pulang sekolah anterin aku
yuk”
“Kemana?” tanya Hanif sambil
mengunyah makanan yang dibelinya
“Hmmm, aku mau cari buku tentang
Desaigner” Ujar Dita
“Oke, tapi jangan lama-lama
soalnya aku sore mau ada tanding futsal”
“Oke deh” cengir Dita
Bel pulang sekolah pun berbunyi,
Dita sudah menunggu hanif di parkiran sambil memegang sepeda pinknya.
“ih lama banget sih Hanif, dia
kok nggak keluar-keluar kelas” ucap Dita dengan nada kesal
15 menit kemudian, Hanif pun baru
muncul.
“Darimana aja sih? Lama banget,
nanti keburu sore tahu” omel Dita
“Maaf, tadi ada kumpul futsal
bentar, yaudah yuk ayo pergi sekarang” jawab Hanif
Mereka berdua pun mengayunkan
sepeda menuju toko buku Gramedia, sesampainya disana Dita langsung menuju ke
bagian buku tentang ‘Designer’ dia memang suka menggambar, tetapi menggambar
fashion-fashion. Beda dengan Hanif, dia tertarik dengan buku-buku panduan
arsitek. Dia lebih suka menggambar bangunan-bangunan dibandingkan harus
menggambar fashion...
Dita dan Hanif mempunyai kesamaan
hobi menggambar,
cita-cita Dita adalah menjadi designer fashion terkenal. Sedangkan Hanif, ia bercita-cita
menjadi seorang Arsitek. Mereka berdua sudah berjanji untuk kuliah di
Universitass yang sama dan di Kota yang sama.
“Udah belum?” tanya Hanif kepada
Dita yang sedang asyik membaca buku tentang Designer
“Sebentar lagi, lagian buru-buru
banget baru juga 10 menit kita disini. Memangnya kamu nggak mau lihat lebih
banyak lagi buku tentang arsitek?” ujar Dita
“Udah tadi, cuma aku lagi malas.
Ayo cepat, aku pingin pulang. Kepalaku tiba-tiba pusing” jawab Hanif dengan
langkah meninggalkan Dita
“Kamu sakit?” tanya Dita
“enggak” jawab Hanif cuek
Keesokan harinya, Dita mendapat
pesan singkat dari Hanif bahwa dia tidak masuk sekolah
karena sakit.
“Yah berangkat sendiri deh hari
ini” gumam Dita
“Mana hanif dit? Kok tumben dia
tidak kesini?” tanya Mama dita heran
“Dia sakit Ma, makanya hari ini
aku berangkat sendiri”
“Sakit apa? Kamu ga kerumah dia
dulu?”
“Dia bilang sih pusing Ma, nanti
aku kerumahnya kalau sudah pulang sekolah saja” ujar Dita
Setelah berpamitan dengan
Mamanya, Dita pun berangkat ke Sekolah tanpa ditemani Hanif.
“Hai dit, lesu banget hari ini?
Kenapa kamu? Oh iya tumben berangkat sendirian” tanya Rani teman sebangku Dita
“Nggak apa-apa aku lagi malas saja,
iya Hanif sakit jadi aku berangkat sendiri” jawab Dita
“Oh gitu, oh iya kamu udah mengisi
formulir untuk pendaftaran ke Universitas?”
“Belum, aku nunggu Hanif.
Soalnya, aku mau bareng lagi sama dia” jawab Dita
Sepulang sekolah, Dita langsung
menuju ke rumah Hanif. Tidak sabar dia melihat keadaan sahabatnya itu. Sesampai
dirumah Hanif...
“Masuk saja mbak, mas Hanif lagi
di teras atas” ujar Mbok Nah, pembantu Hanif.
“Terimakasih ya Mbok”
Hanif sedang duduk sambil membaca
buku, Dita pun menghampiri Hanif..
“Hei, sakit apa kamu? Tumben
banget sakit” goda Dita
“Kamu nggak lihat muka aku pucat
begini? Emang muka aku tidak kelihatan muka orang sakit?” jawab Hanif sebal
“Hehehe, maaf bercanda kok. Emang
kamu sakit apa? Perasaan kemaren pas kita ke Gramedia kan baik-baik saja” ucap Dita
“Ya mungkin kecapean gara-gara
tanding futsal kemarin, terus sakit deh” jawab Hanif santai
“Oooh gitu, makanya jangan
kecapean. Oh iya aku belum daftar ke Universitas nih nungguin kamu, kan katanya
kita mau ngambil Universitas yang sama”
“Kamu yakin mau satu Universitas
lagi sama aku? Nggak bosan?” canda Hanif
“Bosan sih, tapi ya gimana
lagi... dari kecil udah terbiasa bareng sama kamu sih” ledek Dita
Mereka pun bercanda sambil
membicarakan hal-hal yang terjadi di Sekolah tadi, lalu Dita pun mengeluarkan
buku-buku catatan agar Hanif tidak ketinggalan pelajaran.
Keesokan harinya, Hanif masuk
sekolah dan seperti biasa mereka pergi dan pulang bareng. Namun, besoknya Hanif
tidak masuk sekolah lagi, Dita pun kembali pergi mengunjungi rumah Hanif untuk
melihat keadaan sahabatnya itu. Seperti biasa, hanif selalu menjawab ‘kecapean’.
Setelah beberapa hari yang lalu
Hanif sakit, Hanif pun jadi jarang masuk ke sekolah dan setiap Hanif tidak
masuk, sepulang sekolah Dita selalu mengunjungi rumah Hanif untuk menanyakan
keadaan sahabatnya. Lagi-lagi Hanif hanya menjawab “mungkin aku kecapean’’ atau
“aku cuma pusing kok”.
Dita tidak menaruh perasaan
curiga kenapa Hanif selalu menjawab pertanyaan yang sama, karena Dita percaya
dengan omongan sahabatnya itu, sahabat yang dari kecil tak pernah pisah
dengannya, sahabat yang ia sukai dari kecil walaupun ia tidak pernah berani
untuk mengatakannya. Tetapi ia berjanji, ia akan mengatakan perasaannya ketika
ia sudah berani untuk mengatakannya kepada Hanif.
Di suatu sore, Hanif dan Dita
pergi berjalan-jalan ke toko buku. Ya, mereka senang pergi ke toko buku atau
menonton film ketika akhir pekan.
“Eh Nif, ada film kesukaan kita
keluar” ucap Dita
“Oh ya? Kapan keluarnya? Jawab
Hanif antusias
“Bulan depan, nonton yuk!” ajak
Dita semangat
“Ayo, bulan depan ya janji awas
aja”
“Iya, pokoknya harus nonton!”
ucap Dita ceria
***
Hanif tidak masuk sekolah lagi dan Dita merasa cemas, ada
apa dengan sahabatnya ini, kenapa dia akhir-akhir ini jarang sekali masuk
sekolah. Dita berpikiran tidak karuan, ia ingin menjenguknya seperti biasa tapi
kali ini Hanif melarangnya dan beralasan ia lagi ingin sendiri dan istirahat.
Seminggu... Hanif tidak masuk
sekolah juga, Dita selalu menanyakan keadaannya lewat pesan singkat. Namun,
Hanif selalu menjawabnya dengan santai “aku nggak kenapa-kenapa, nanti juga aku
masuk sekolah” Hanif selalu menjawab pertanyaan Dita dengan jawaban yang sama,
kadang-kadang ia beralasan ada acara keluarga. Ketika Dita ingin menjenguknya,
ia tidak memperbolehkan Dita untuk menjenguknya. Namun, seminggu telah berlalu
terakhir ia bertemu Hanif ketika berjalan bersama di akhir pekan. Dita nekat,
dia akan pergi mengunjungi rumah Hanif hari ini.
Sesampai dirumah Hanif, rumah itu
terlihat sepi dan kosong. Dita menekan tombol “bel” berulang-ulang kali namun
tidak ada orang yang keluar dari rumah itu. Akhirnya Dita memutuskan untuk pulang.
Keesokan harinya, Dita kembali
kerumah Hanif. Hasil tetap sama, tidak ada orang satu pun dirumah itu, 2 minggu
berlalu Dita kesal, khawatir, sedih. Kenapa sahabatnya itu tidak ada kabar?
Kenapa pesan singkatnya tidak pernah dibalas? Kenapa ditelpon tidak bisa?
Kemana dia? Gimana keadaanya?
Pertanyaan-pertanyaan itu berkelebat di kepala Dita. Memang, sudah 2
minggu ini Hanif tidak bisa dihubungin, orang tuanya pun tidak bisa dihubungi.
Pada Hari itu...
“Drettt drettt” handphone Dita
bergetar, dilihatnya handphone genggamnya dan terdapat pesan singkat dari
Hanif.
“Dit, apa kabar? Baik-baik aja
kan? Maaf ya aku menghilang dan tidak bisa dihubungi. Hehe aku lagi berlibur
nih, asik banget loh disini. Oh iya, 2-3 hari lagi aku pulang, filmnya masih
ada kan? Ayo, kita nonton film itu ya Dit, aku kan udah janji mau nonton bareng
kamu. Tunggu aku ya Dit” begitulah isi pesan singkat Hanif terhadap Dita,
ketika Dita membalasnya, Hanif tidak membalas lagi.
Dita sangat menunggu-nunggu
kepulangan Hanif. Ya, Dita
sangat merindukan sahabatnya
itu.
3 hari kemudian…
“Dit bangun....” Mama
membangunkannya yang
masih tertidur pulas.
“Hmmmm, masih pagi Ma. Aku masih
ngantuk” ucap Dita dengan menutupkan matanya dengan bantal
“Dit, kita harus pergi sekarang”
ucap Mama Dita dengan nada sendu
“Kemana ma?” segera Dita bangun
dan melihat wajah Mamanya yang terlihat sedih
“Kamu cepat mandi, lalu
berpakaian yang rapi” jawab Mama Dita, lalu meninggalkan Dita yang masih
terdiam dikasur
“Tapi mau kemana, Ma?”
Mama Dita tidak menjawab
pertanyaan terakhir Dita, Dita pun langsung bergegas mandi dan bersiap-siap.
Dia tidak tahu, ke mana
mamanya akan mengajaknya pergi pagi hari ini. Namun Dita mengikuti saja ajakan
dari mamanya itu.
“Ma aku udah siap”
“Ayo kita pergi, entar kita
terlambat” ucap Mama Dita
Di perjalanan, Dita terus
bertanya akan pergi kemana. Namun, Mamanya sama sekali tidak menjawab
pertanyaan Dita, yang terdapat hanya keheningan disepanjang jalan.
“Kita sudah sampai, nak”
“Ma? Ini kan rumah Hanif.. kenapa
ramai sekali?” tanya Dita heran
“Lebih baik kita turun dan masuk,
Nak” ucap Mama Dita
Kenapa ada bendera kuning? Siapa
yang meninggal? Perasaan Dita tiba-tiba tidak enak. Langkahnya bergerak kaku..
Ketika masuk rumah Hanif, Dita
terpaku tidak bergerak. Dia tidak percaya, dia ingin menangis, ingin marah,
ingin menjerit ketika melihat tubuh Hanif diantara orang-orang banyak.
“Ma.... ini aku mimpi kan?” air
mata Dita mulai berjatuhan, tiba-tiba kakinya terasa sangat lemas
“Tidak Nak, Hanif meninggal
semalam. Dia mempunyai penyakit Kanker Hati stadium akhir, maafin Mama. Mama
juga baru dikasih tahu tadi Pagi, Hanif baru sampai tadi pagi dari Singapure”
Dita menangis. Dia baru mengerti
omongan-omongan Hanif ketika dia bilang sedang berlibur, ternyata dia sedang
melakukan pengobatan, Hanif berjanji akan pulang 2-3 hari lagi dan menonton
film kesukaan mereka dengan Dita. Maksudnya, pulang dengan tubuh tanpa nyawa
dan meninggalkan dirinya selama-lamanya? Pikiran Dita sangat kacau. Dia tidak
tahu harus berbuat apa, di dekatinya tubuh sahabatnya itu. Hanif yang pucat,
dengan mata terpejam.
“Nif, kenapa secepat ini kamu ninggalin aku... kamu janji
kita akan kuliah bareng kan Nif? Kamu masih inget kan? Kamu mau jadi arsitek
dan aku desaigner , kamu masih inget kan cita-cita aku sama kamu? Kalau kamu
nggak ada, aku berangkat sekolah sama siapa Nif? Kamu tega ngelihat aku
berangkat sendiri? Kamu tega ngelihat aku sedih? Katanya kita mau nonton? Kok
kamu ninggalin aku duluan?” tangis Dita semakin menjadi-jadi. Selama ini Hanif
tidak pernah cerita sedikit pun tentang penyakitnya kepada Dita.
Pemakaman Hanif pun selesai, satu
persatu meninggalkan pemakaman itu. Namun Dita, masih duduk disamping makam
Hanif “yang tenang ya Hanif, sahabatku. Doain cita-cita aku tercapai jadi
designer terkenal, aku juga akan selalu doain kamu kok. Aku pulang dulu ya Nif,
aku capek seharian ini disamping kamu’’
Dita pun berdiri dan beranjak
pergi meninggalkan pemakaman sahabatnya, Hanif. Tentang perasaannya kepada
Hanif, biarkan dia saja yang tahu. Biarkan saja dia yang meyimpan selamanya.